[cerpen-se-hu-mu-mu] RSJ Sumber Waras: Eh, lo pada tempat favorit nongkrong dimana?

di tengah pembahasan rapat sidang penurunan harga garam se-indonesia di sebuah kontrakan di daerah menteng dalam cahaya terang dengan lima lampu teplok mengelilingi. Sebuah petromak menemani di tengah meja bundah peninggalan Sir Alex Jik Jak. Mereka menamakannya konferensi meja bundar. Pembahasan berlanjut untuk menyepakati untuk menurunkan harga garam yang mulai terimbas oleh krisis ekonomi dunia. Sebab sidang ini disebabkan akibat munculnya penyakit gondokan pada 50% rakyat ini. Maksudnya, gondokan adalah rakyat yang dengan mudahnya terhasut, menghasut agar negeri ini tak aman. Ya mereka kekurangan garam. tak pernah merasakan asinnya dunia dengan hadirnya mereka.

Joni berdiri memegangi perutnya. Aku menyerah harga garam tak mungkin turun sampai kurun waktu 10 tahun mendatang. Rakyat masih menginginkannya naik. sudahlah, kita alihkan pembicaraan. kalian tahu gak tempat favorit nongkrong lo pada? Joni bergerak-gerak tak bisa diam.

Abi menatap Joni. ia mengeluarkan pulpen ceteknya. gugup sambil mencetak-cetekkan pulpennya. semakin cepat saja. "kalau gw di pelataran gedung ismail marzuki" dijawabnya dengan gugup. Abi si ahli nujum dari karang belong cuma bisa terdiam setelahnya. setiap ada pagelaran di gedung itu dia selalu tampil disana menjajakan bunga disana.

"Ah elo gak intelek banget sih! kalau gw di pelataran perpustakaan pusat" Rahmat membalas jawaban Abi. RAhmat si maniak baca selalu terlihat disana bukan untuk membaca tetapi menenteng tas besar dan menggelarnya di pelataran perpusnas. kembali lagi ia menjajakan buku disana.

Malam yang dingin ditambah hujan tak henti membuat semua peserta meja bundar menguap. Kopi sudah tak mampu lagi mengganjal mata mereka.

"Huaaaah, aku di masjid depan, biar lebih religius" sambung Mirsod memecah kantuk. Pemuda gaek keturunan Arab Depok ini PD menyampaikan tempat nongkrongnya. Mirsod setiap jumat memeng kerap terlihat disana ningkrong bareng yang lainnya untuk menjajakan minyak wangi berbau Pak Haji yang amat diminati pemuda, dewasa dan profesional karena baunya yang amat menusuk dan relatif murah.

"Eh, lo tahu gak dimana toilet" Joni acuh pada jawaban teman-temannya. "di belakang belok kanan serong kiri dikit ya biar gak menghadap kiblat" Jawab Mirsod.

Ya udah terima kasih. Lo pada unik. tempat nongkrong favoritnya keren keren. Kalau gw sih tak ada lagi selain toilet untuk tempat nongrong favorit. Habis sudah gak ada kali, atau empang untuk tempat nongrong lagi. Joni segera berlari memegangi perutnya yang buncit menuju toilet.

Mirsod, Abi, dan yang Lainnya. Melotot. &^*(?:>"><>??::P?>>:""""(*&)%^&&&

sambil tersenyum, "benar juga ya, panggilan perut pasti yang tervavorit untuk jadi tempat nongkrong ya di sana". Ha ha ha. Ruangan tiba-tiba gemuruh semuanya tertawa.

Di dalam gedung yang tak pernah sepi dengan tawa, tangis dan renungan. Manusia yang ditakdirkan dipermainkan oleh pikirannya. Hujan masih deras. Aku masih berteduh di warung tenda. meneguk kopi mocca rasa menthol sekedar menyegarkan tubuh agar hangat dan tentunya biar si pemilik tidak keki karena telah menumpang berteduh. aku penasaran gedung apa ini. Kubaca plank nama gedung itu. tertulis, RSJ Sumber Waras?. "Pantes" kataku.

rawadas
30 november 2008

--------------------------------------
Artikel adalah original buatan saya, karena Multiply akan menghapus feature BLOG
maka saya pindahan content Blog Multiply saya ke Blogspot ini.

Source: http://ya2nya2n.multiply.com

Popular posts from this blog

Novel Terbaru Tere Liye Hujan Terbit Januari 2016

Novel Terbaru Andrea Hirata ( Ayah )

Inilah cara menghadapi istri yg cerewet dan pemarah ala umar bin khottob