5 Kesalahan yang Biasa Dilakukan Pengusaha

Kripikyayan.blogspot.com - Mengambil keputusan dalam berbisnis mungkin pilihan yang tepat. Tetapi menjadi tidak tepat ketika kita selalu mengulang kesalahan yang sama tanpa mau belajar. Berikut ini ada 5 kesalahan yang sering dilakukan para pengusaha: 





*Tidak Pernah Membuat Perencanaan*

Sebagian pengusaha tidak pernah membuat perencanaan secara tertulis. Jangankan tertulis, perencanaannya saja tidak ada. Semua “mengalir” saja sesuai kondisi yang ada di lapangan. Padahal perencanaan ini penting agar ia bisa mengefisienkan segala sumber daya yang dia miliki agar efektif dan efisien dalam pelaksanaan di lapangan. Pengusaha-pengusaha yang malas membuat perencanaan bisnisnya akan naik turun tak beraturan tanpa bisa dikontrol atau di evaluasi, sebab parameter keberhasilannya saja tidak jelas. Ini juga yang membedakan antara seorang pengusaha dengan pedagang “biasa”.


*Terlalu Mengandalkan Seseorang*

Memiliki seseorang yang bisa diandalkan memang sesuatu yang menyenangkan. Seseorang yang menguasai semua hal, yang bisa menyelesaikan semua masalah tanpa kita harus/perlu turun tangan lagi. Hal ini membuat seorang pengusaha kadang menjadi lupa diri dan “merasa” bahwa ia sudah mencapai financial freedom. Perusahaan bisa jalan sendiri tanpa ia terlibat. Padahal hal itu karena ada “manusia super” di dalamnya. Dan ini menyimpan bahaya laten yang sangat berbahaya. Bahayanya adalah, jika suatu saat ia tidak ada, entah itu resign karena dibajak perusahaan lain atau dia membuat usaha sendiri, maka perusahaan anda akn langsung runtuh dengan cepat. Atau paling tidak, hal ini membuat anda harus memulai “semi” dari nol lagi, melakukan semuanya lagi semuanya. Untuk terhindar dari hal ini, mulailah membangun sistem dan mulailah membiasakan sesuatu tidak tergantung pada seseorang, betapa pun menyenangkannya hal itu.

*Hanya Mengasah Otak Kanan Tanpa Mulai Memperbaiki Masalah Teknis*

Seminar-seminar motivasi bisa sangat “menyenangkan”. Namun hati-hati kalau ia jadi semacam rekreasi emosional anda saja atau bahkan pada level yang lebih parah, ia menjadi semacam candu buat anda. Di mana jika anda sedang down, jatuh, terpuruk, lalu anda ikut seminar-seminar seperti itu tanpa melakukan perbaikan-perbaikan dasar, sistemik dan teknis pada masalah yang anda hadapi. Ada baiknya anda mulai membekali diri dengan kemampuan-kemampuan teknis seperti : membuat perencanaan bisnis, marketing & sales, keuangan, hingga mengelola Sumber Daya Manusia (SDM). Semua kemampuan teknis ini akan lebih “hakiki” menyelesaikan masalah-masalah anda walau tentunya motivasi-motivasi bisnis tetap dibutuhkan.


*Tidak Bisa Memberikan Visi Besar Kepada Karyawan*

Setiap orang tentu memikirkan masa depan dirinya. Seseorang mau memikirkan masa depan perusahaan jika ia merasa sudah “safe” dengan masa depan dirinya sendiri. Sebagian pengusaha “malas” melakukan visionisasi kepada karyawan atau bahkan tidak tahu hal ini perlu. Akibatnya, karyawan bekerja sekedar untuk menghidupi dirinya sendiri. Bahkan yang lebih parah “sekedar bertahan hidup”. Ia tidak memiliki passion atas pekerjaannya dan tidak memiliki semangat untuk membuat perusahaannya menjadi lebih besar. Ketika anda bisa membenamkan visi yang kuat bahwa perusahaan ini akan besar, dan tentunya bahwa dengan besarnya perusahaan ini maka mereka akan ikut besar dan sukses, maka anda sudah memiliki karyawan-karyawan terbaik yang memiliki sense of belonging yang kuat atas perusahaan. Pada level yang lebih tinggi, karyawan-karyawan yang sudah memberikan kontribusi produktif serta loyal selama batas waktu tertentu, bisa anda pertimbangkan untuk diberikan semacam saham, sehingga semangat tempurnya bisa menjadi jauh lebih baik lagi.


*Tidak Tertib dan Disiplin dalam Masalah Keuangan*

Sebagia pengusaha tidak tertib dalam masalah keuangan. Tidak bisa membedakan mana keuangan pribadi dan keuangan perusahaan adalah salah satu kesalahan yang cukup fatal. Karena ia seperti menggali lubang kubur perusahaan itu sendiri. Kesalahan lain yang sering dilakukan adalah menggunakan uang yang bukan haknya untuk pos anggaran lain. Misal, uang pajak/PPN digunakan untuk membayar supplier sehingga pada dosis berlebih ia menyulitkan perusahaan di akhir. Bisa juga pembayaran yang seharusnya untuk supplier, digunakan untuk operasional tanpa berpikir gantinya, hal ini juga bisa membuat keuangan perusahaan goncang. Dalam bisnis anda harus tertib, teratur dan disiplin dalam keuangan karena ini menyengkut sustainability perusahaan anda ke depan.




Dari berbagai sumber

Mau Bukukita semua ya di toko buku online Parcelbuku.net
 

Popular posts from this blog

Novel Terbaru Tere Liye Hujan Terbit Januari 2016

Novel Terbaru Andrea Hirata ( Ayah )

Inilah cara menghadapi istri yg cerewet dan pemarah ala umar bin khottob