Cerpen Motivasi] Schon Go.....

Tak pernah kulihat adikku tanpa mendengar lagu. Di rumah dua tingkat type 100 memberikan peluang anggota keluarga memiliki kamar tidurnya sendiri-sendiri. Kecuali adikku yang paling kecil selalu bersamaku satu kamar walaupun sudah disediakan kamarnya sendiri. Apabila sedang mendengar lagu dan mengerjakan tugas sekolahnya bisa bertahan di kamarnya. Tetapi saat selesai itu semua dia akan mengetuk pintu kamarku dan memohon tidur di kamarku. Suatu hari kudengar alasannya bahwa kalau tidur di kamar kakak ada suasana hening dan ada ruh terlalu berbeda dengan kamarnya. Entahlah berbeda dimana. Setahuku fasilitasnya sama saja dengan kamarnya. AC, komputer, kamar mandi, spring bed, seperti hotel saja. Paling yang kulakukan hanya membangunkannya untuk ikut ke masjid menunaikan sholat shubuh. Schon senang sekali apabila kuajak seperti itu. Tak ada kata-kata masih ngantuk atau lelah. Selalu saja ketika hanya kupanggil. ”Schon...bangun subuh yuk”. Maka ia akan segera bangun dan mengambil air wudhu lalu segera beriringan ke masjid dekat rumah.
Schon baru saja lulus SMP. Sebuah SMP di Jakarta yang dibilang favorit. Entah kenapa aku juga heran kenapa adikku yang satu ini sanggup meraih lulus seleksi di sana. Dengan NEM yang mesti 9 rasanya sulit mengira adikku diterima. Ada rasa bangga sih. Apalagi di saat wisuda lulusan SMP menjadi urutan ke 2 lulusan terbaik. Bangga juga sih. Padahal di rumah MP3 playernya tak pernah lepas darinya. Atau sekedar mendengarkan musik di komputernya. Boleh dibilang tiada kata tanpa musik. Dua lagu yang paling sering diulangnya adalah lagu group band jogja. Seingatku ia pernah mengatakan group bandnya namanya apa ya seperti le.....tt....oy....(lettoy) eh salah Letto. Satu hal yang kularang apabila ia berada di kamarku, ya itu memutar lagunya lettoy. Candaku apabila sedang berbincang dengannya. Kadang aku mengakui Schon memang memiliki kelebihan dari manusia seumurannya. Dia begitu PD dan jarang kulihat termenung atau kecewa dengan apa yang menimpanya. Kecuali suatu hari ketika kelas 2 SMP saat membantu mencuci piring membantu ibu. Dan piring yang di pegangnya terpeleset dari tangan dan pecah. Yang kuingat 3 hari ia merasa begitu bersalah dan memilih merenung di dalam kamarnya. Entah apa yang dilakukannya kecuali terdengar lagu yang tak kutahu lagu apa itu. Setelah itu dia menjadi begitu bersemangat seperti mendapat mukzijat dan begitu bijaksana juga dewasa. Teman-temannya banyak yang datang kerumah sekedar main atau lainnya. Sepertinya ia disukai di sekolahnya.
# # # # # # # # # # # # # # # # # #
Suasana malam kian menyengat dingin. Aktivitas kantor benar-benar membuat pengat. Tak ada target tercapai bulan ini. Seluruh pimpinan menyudutkan. Bulan depan tak ada lagi tidak mencapai target dan harus tepat pencapaian targetnya. ”Hmmm.....rasanya besi baja 1 ton menimpaku”. Otakku benar-benar di peras. Ingin sekali berteriak keras dan mengatakan, ”Kemari siapa saja yang berani menyudutkanku, si orang super ini.” begitulah aku untuk menaikkan kembali motivasiku. Tetapi tetap saja tak berhasil meloncatkan sinar semangat. Yang terasa hanya tambah bermasalah. Karena ada bintik kesombongan disana. ”Ah..sudahlah lupakan...bulan depan akan kupenuhi target-target kerjaku.”
Kunaiki tangga rumah dengan pegangan besi meliuk apik. kuhitung dari awal melangkahkan kaki jumlahnya beranak tangga 30. tersa ringan dengan karpet mengalasi setiap anak tangga. Kudengar lagu yang sedang di putar Schon. Pelan, namun terasa keras terdengar di kupingku. Apa karena ada kegundahan dihati ini. Sejenak menyeruak pasti menggodaku untuk mendengarkan. Dan sekedar sharing mungkin mampu memberi sedikit semangat padaku.
Segera kuhampiri kamarnya yang masih kubuka. Menuju kamar yang tak ajauh beda dengan isi kamarku. Kurebahkan diri di springbed kamarnya. Seraya heran schon menolehkan wajahnya yang sedang asyik di depan layar komputernya.
”Ada apa, kak? Lesu sekali kelihatannya”
”Iya, gak apa khan masuk kesini. Mau dengar-dengar lagu si lettoy...eh salah Letto...”
”Biasanya kakak, anti sekali dengan lagu-lagu yang kudengarkan. Dan hanya mau mendengarkan lagu nasyid saja”
”Gak tahu kenapa, saat naik tangga kakak begitu ingin mendengarkan lagu yang kamu putar, Schon”.
Suasana begitu tenang kini. Satu lagu telah habis kudengar lekat-lekat. Lagu kedua pun seperti itu. Sedikit menenangkan freqwensi otak dan hati yang tadi masih tinggi. Kini agak reda. Apakah benar alunan musik dan lyrick dapat menyihir seseorang. Lagu ke dua menambah-nambah penasaranku. Apakah adikku mendapatkan semangatnya dari lagu ini. Atau sekedar menyeimbangkan freqwensi otaknya, sehingga menjadi terus semangat sepanjang hari. Lagu kedua selesai. Kucoba bertanya pada schon kenapa bisa menenangkan sedikit dua lagu tersebut.
”Schon, kenapa lagu letto tadi begitu kau sukai?”
”inilah yang kutunggu, kakak menanyakannya padaku. Tidak hanya mengatakan tidak suka lagu yang kudengarkan. Semua orang pasti punya alasan kenapa orang tersebut menyukai lagu yang didengarkannya”.
Sambil berdiri dengan semangatnya. Lalu ia menjelaskan hikmah dua lagu ini. Digapainya mouse komputer dan mengulang lagu pertama dari letto dan disebutkan judulnya adalah sampai nanti sampai mati. Disana ada satu beberapa bait lyrick yang begitu memotivasi. Kemudian dia menebak bahwa muka masamku karena urusan kantor.
”Inilah lyrick yang bisa kita ambil hikmahnya disaat masalah mendera”
Kudengarkan lekat-lekat bait tersebut. Pertama kali tak kutangkap sama sekali maksud dari lyrick tersebut. Sampai Schon seperti mengerti kerutan dahiku dan diulanginya lagi.
”.......Tak peduli
Kalau kau kejar mimpimu salut
Kalau kau ingin berhenti
Ingat tuk mulai lagi........”
di tekannya tombol pause sehingga berhentilah lagu tersebut. Di jelaskan jelas-jelas. Bahwa ketika kita mengejar mimpi maka itulah tujuan hidup dan tabiat manusia adalah bosan, maka ketika mau berhenti tak menjadi masalah untuk berhenti sejenak saja namun jangan lupa untuk mulai lagi. Karena merilekskan pikiran dan tubuh adalah kewajiban semua manusia untuk menendang kembali ide-ide dan semangat baru muncul. Wajar kalau bulan ini aku tak mencapai target kantor karena mungkin memang di bulan itu aku harus beristirahat sejenak. Untuk memberikan kesempatan semangat dan ide segar muncul kembali.
”Oke kita mulai lagi dengan bait kedua” sergahnya begitu bertambah semangat  ketika kusilakan kaki dan memandang kearahnya serius
Kembali kudengar alunan bait selanjutnya. Sedikit mulai kutangkap makna kata disana. Ruangan begitu terang kini. Udara segar seperti memenuhi rongga pori otakku yang mulai menyegarkan dan menyemangati dalam perbincangan dengan adikku.
Tetap semangat
Dan teguhkan hati
Di setiap hari
Sampai nanti
Sampai mati..........
Tetap melangkah
Dan keraskan hati
Di setiap hari
Sampai nanti sampai mati.....”
.kuncinya hanya satu cukup pupuk semangat, teguhkan hati bahkan keraskan hati di setiap hari kalau perlu ”..sampai nanti...sampai mati...”. Kutarik nafasku dalam-dalam. begitu merasuk tulang-tulangku. mengangkat kembali satu ton besi baja yang tadi menimpa kepalaku akibat beban kerja.
”Alhamdulillah.” kukatakan secara spontan di depan adikku.
semangat ini telah menemukan ruangannya kembali. Ide-ide dan semangat seperti telah mengalir kembali. ”Terima kasih, dik.” Dalam hatiku. Setelah ini pasti aku tak akan pernah lagi mengeluarkan pendapat kepada setiap orang yang menyukai suatu lagu karena ia mendengarkan berulangkali dan aku tak suka. Semua orang punya alasan menyukai lagu-lagunya sendiri. Schon...terima kasih telah menyemangatiku kembali. Tak salah ayah memberikan namamu ”Schon”  dalam bahasa Jerman yang padanannya berarti, ”cool”. Pasti karena inilah kau juga disukai teman-temanmu yang lain. Seraya bangkit dan izin kembali ke kamar kudenndangkan kembali lyrick yang di jelaskan Schon tadi.
”.......Tak peduli
Kalau kau kejar mimpimu salut
Kalau kau ingin berhenti
Ingat tuk mulai lagi.......
Tetap semangat
Dan teguhkan hati
Di setiap hari
Sampai nanti
Sampai mati..........
Tetap melangkah
Dan keraskan hati
Di setiap hari
Sampai nanti sampai mati.....”
Schon tersenyum mendengar dendanganku. Sambil kembali menuju kursi dan meneruskan aktivitasnya ia berkata sedikit keras.
”Nanti aku ke kamar kakak, jangan lupa bangunkanku ”Sebelum Cahaya” Ya.......”
”Oke...”,
Mulai kujauhi kamar Schon. Ada bahagia disana. Namun ada pertanyaan muncul kembali saat tadi ia mengatakan, ”..Bangunkanku Sebelum Cahaya...”. apa yang dimaksudnya. Sepertinya tadi aku dengarkan lyrick itu. Tapi nanti sajalah kutanyakan kembali apa maksudnya. Yang jelas aku akan selalu membangunkanmu subuh nanti Schon Go.......(bersambung)
- al iyan –
- untuk seluruh pencari hikmah melalui media apapun bertujuan kebaikkan –
- rumah ide – kebayoran baru –
-          19. 25 – 

--------------------------------------
Artikel adalah original buatan saya, karena Multiply akan menghapus feature BLOG
maka saya pindahan content Blog saya ke Blogspot ini.

Source: http://ya2nya2n.multiply.com

Popular posts from this blog

Novel Terbaru Tere Liye Hujan Terbit Januari 2016

Novel Terbaru Andrea Hirata ( Ayah )

Manfaat Kayu Manis Bagi Penderita Diabetes