DI JALAN PERTIGAAN KEHIDUPAN….

Hati ini kian bertanya pada hati terdalam, “Di pertigaan jalan kehidupan belokkan ke kiri begitu menggodaku. Banyak orang berbondong-bondong kesana. Namun di pertigaan jalan kehidupan belokkan kanan baru saja menyejukkanku. Pilihan ada padaku. Dan akhirnya lampu hijau muncul. Dengan mengucapkan Bismillahirrohmanirrohiim. Kubelokkan motor ini ke kanan”

Jalan itu sudah biasa kulalui, dalam jumlah 7 hari, 5 hari setiap pagi hari. Sebuah billboard tepat di depan seberang jalan bertuliskan "Gak ada Elo Gak Rame, Ayo Ke Kiri Aja". Sebelah kiri samping trotoar barisan ruko rapih berjejer. Di kanan seberang jalan masih berdiri megah sebuah masjid beserta pesantren. Mobil telah berderet deret dibelakangku. Motor-motor merapihkan dirinya tepat diatas garis zebracross. Lampu sen motorku telah ku arahkan kekanan. Disinilah aku dan motor ini berhenti sejenak mulai berpikir. Di Jalan PErtigaan KEhidupan yang akan selalu dilalui setiap manusia di Bumi.

Akankah kuarahkan motor ini kearah kanan seperti lampu sen bewarna kuning berkedip-kedip yang telah kunyalakan berbunyi jelas mengingatkan, “nget...nget...nget.” Jelas sekali. Mata ini mulai kuarahkan ke kanan jalan di sebuah pertigaan. Pohon-pohon hijau tinggi-tinggi merindangkan jalannya. Tak biasanya kini kulihat seorang wanita, ya seorang wanita. Walaupun tak jelas karena dengan baju orange seorang pembersih jalan. Dengan sebuah sapu lidi setinggi tubuhnya. Di pagi hari ketika lalu lalang manusia dan kendaraan mencari dirinya dengan tujuannya sendiri-sendiri. Sapu tangan menutupi setengah wajahnya. Menghindari asap-asap kendaraan yang menghampiri wajahnya. Hikmat sekali, kupandangi lekat-lekat. Hingga seorang pemuda berjalan mendekati wajah semburat kerut dengan sapu lidi di tangan membersihkan jalan. Pemuda berbaju hitam, tegak dengan tas kerjanya. Sebentar saja dekat sudah mendekati ibu pembersih jalan. Sebelum dekat kulihat jelas tangan kanan pemuda memasukkan jemarinya kedalam saku celannya. Sempat tak mengerti apa yang sedang dilakukan dan melakukan apa pemuda itu. Dengan tersentak menyentuh hati. Jemari tangan kanan itu keluar dan meraih sebuah tangan mulia ibu pembersih jalan. Sejumlah rupiah. ”Ya Allah, alangkah mulianya”. Pemuda kian menjauhi, si Ibu terlihat bingung dan heran, namun dengan sigap terbaca dari sapuan kedua tangannya mengusap wajahnya. Aku membayangkan ucapan itu dengan hikmat, ”Alhamdulillahirrobbil ’Alamin”. Indah sekali. Dan menjadi penyejuk hati pagi ini. Ya Allah ada apakah di jalanan belokkan ke kanan itu. Kalau-kalau sebuah kejadian penuh penyejuk hati telah ada di sana. Lebih sejukkah di ujung jalan sana? Benarkah tanda lampu sen yang telah kunyalakan ke kanan ini. Lalu terdiam sejenak.

Masih di sebuah pertigaan. Ataukah kuarahkan motor ini ke belokkan ke kiri jalan dan memindahkan nyala lampu sen motor ini ke kiri. Wajah ini kualihkan kini kearah jalan belokkan ke kiri. Hanya pohon-pohon perdu disana. Rendah. Banyak sekali manusia, mobil, motor lalu lalang disana. Berbagai macam rupa. Sebentar kemudian seorang wanita membelokkan diri ke kiri jalan itu. Sangat mencolok menurutku. Sebuah tas berbalut kristal. Dengan komestik tebal. Mengisyaratkan dia baru saja dari salon. Kontras sekali dengan ibu di seberang jalan sebelah kanan. Kini mata ini masih mengawasi jelas. Perhiasan memenuhi tubuhnya menurutku. Tanpa kusadari sebuah tangan meraih tas berbalut kristal dari tangan ibu itu. Sedetik kemudian terdengar kepenjuru jalan, ”Jambretttttt.......Jambrett......”. dan semua mata dimanapun berada akan menoleh kearah sumber suara. ”Naudzubillahimindzalik....” ada apa di kiri jalan sana. Namun kenapa banyak yang mengarahkan sen lampu kendaraannya ke arah jalan belokkan ke kiri, ”ada apa sebenarnya yang ada di ujung jalan itu?”

Hati ini kian bertanya pada hati terdalam, “Di belokkan jalan belokkan ke kiri begitu menggodaku. Banyak orang berbondong-bondong kesana. Namun di kanan baru saja menyejukkanku. Pilihan ada padaku. Dan akhirnya lampu hijau muncul. Dengan mengucapkan Bismillahirrohmanirrohiim. Kubelokkan motor ini ke kanan”

Kuambil resiko apapun yang ada di ujung jalan belokkan ke kanan itu. Walaupun belokkan ke kiri sempat menggodaku dengan banyaknya manusia, motor, mobil mengarah kesana walau ada pertanyaan menyeruak mungkinkah ada ketenangan dan keberkahan disana. Dalam hati kucoba kuatkan azzam ini. Semoga ada ketenangan dan keberkahan di penghujung jalan di belokkan ke kanan ini. Seperti yang kurasakan peristiwa antara ibu pembersih jalan dan pemuda itu.

-         al iyan –
-         rumah ide – kebayoran baru –
-         17.15 –
-         untuk semua saudaraku yang masih bimbang menentukan belokkannya –

--------------------------------------
Artikel adalah original buatan saya, karena Multiply akan menghapus feature BLOG
maka saya pindahan content Blog Multiply saya ke Blogspot ini.

Source: http://ya2nya2n.multiply.com

Popular posts from this blog

Novel Terbaru Tere Liye Hujan Terbit Januari 2016

Novel Terbaru Andrea Hirata ( Ayah )

Inilah cara menghadapi istri yg cerewet dan pemarah ala umar bin khottob